HISTORY OF JAVA MUSEUM, bermulanya sebuah cerita…



Jika Anda mengunjungi Museum Sejarah Jawa di Yogyakarta, Anda dapat menemukan banyak cerita menarik tentang Jawa atau orang-orangnya.

Sebagai contoh, tidak banyak yang tahu bahwa Ki Hajar Dewantara yang merupakan tokoh pendidikan Indonesia sebenarnya adalah bangsawan yang bahkan memiliki kesempatan untuk memimpin sebuah kadipaten independen di daerah Yogyakarta. Ada banyak bangsawan atau terlahir dalam keluarga bangsawan, kemudian membuang gelar bangsawan Jawa untuk hidup di antara rakyat biasa.

Terlahir sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dalam aristokrasi Jawa, keluarganya termasuk keluarga kerajaan Pakualaman. Dia adalah salah satu cucu Paku Alam III melalui ayahnya, GPH Soerjaningrat.



Ki Hajar Dewantoro

Selain aktif sebagai reporter muda, Soewardi juga aktif di organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908, ia aktif dalam layanan propaganda mereka untuk mensosialisasikan dan mempromosikan kesadaran publik tentang Indonesia sebagai persatuan nasional (terutama di Jawa). Belakangan, Soewardi bergabung dengan partai, ketika Douwes Dekker mendirikan Indische Partij.

Pada tahun 1913, ia menulis beberapa kolom penting, bagian paling terkenal dari kolom Ki Hadjar Dewantara adalah "Seandainya saya orang Belanda". Artikel ini mengkritik keras pemerintah kolonial Hindia Belanda. Jadilah dia dibuang oleh pemerintah kolonial ke Belanda.

Pada bulan September 1919, Soewardi kembali ke Jawa, dan pada bulan Juli 1922, Soewardi mendirikan sekolah Taman Siswa di Yogyakarta, sebuah gerakan pendidikan Jawa yang berusaha memberikan pendidikan bagi penduduk pribumi. Dia juga mengganti namanya menjadi "Ki Hadjar Dewantara".

Dia meninggal di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di pemakaman Taman Wijaya Brata. Sebagai pengakuan atas dedikasi dan pencapaiannya dalam memelopori pendidikan publik di Indonesia, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, pahlawan nasional, dan hari lahirnya ditunjuk sebagai Hari Pendidikan Nasional, melalui Keputusan Presiden no. 305 tahun 1959, tertanggal 28 November 1959.

Bangsawan lain yang memilih untuk menghapus judul adalah Raden Mas Kudiarmadji atau Pangeran Suryomentaram. Dia adalah putra Sultan Hamengkubuwana VII. Ia dilahirkan di Istana Sultan pada 20 Mei 1892. H



Ki Ageng Suryomentaram

Ketika tumbuh dewasa, dia merasa cemas dan tertarik untuk mempelajari psikologi. Dia menyelidiki jiwa manusia dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan.

Setelah ayahnya meninggal, ia meninggalkan gelar kesatrianya dan hidup dengan rakyat jelata, ia juga mengubah namanya menjadi Ki Ageng Suryomentaram.

Dalam perjalanannya mempelajari psikologi, dia sangat yakin bahwa memahami manusia universal cukup untuk mengamati dan mewujudkan perasaan yang ada dalam diri Anda.

Apa yang dipelajari oleh Ki Ageng Suryomentaram dikenal sebagai kawruh jiwa atau kawruh begja (pengetahuan yang bahagia). Ia menjadikan metode sebagai alat analisis selera untuk mengembangkan kualitas hidup dengan landasan introspeksi diri.

Ajaran ini akhirnya menjadi landasan filosofi masyarakat Jawa, bahkan Presiden Soekarno, sering ditanya atau masukan tentang cara mengelola negara.

Ki Ageng Suryomentaram meninggal pada 18 Maret 1962.

Tokoh Fenomenal Jawa lainnya adalah Raden Mas Panji Sosrokartono, lahir di Pelemkerep, Mayong, Jepara, 10 April 1877. Sebagai putra R.M. Ario Sosrodiningrat, R.M.P Sosrokartono adalah kakak dari R.A. Kartini, yang menginspirasi R.A. Kartini menjadi sosok emansipasi wanita.



Raden Mas Panji Sosrokartono

Dijuluki "The Genius from the East" dan "De Javanese Prins" Sosrokartono menguasai 24 bahasa asing dan 10 bahasa tradisional indonesia, kemampuan ini mengalahkan polyglot dari dunia barat.

Sebagai jurnalis untuk The New York Herald Tribune, selama Perang Dunia 1, ketika semua wartawan sibuk mencari kebenaran perjanjian perdamaian rahasia di hutan Champaigne, Perancis Selatan, korannya telah memberitakan berita yang diduga ditulis oleh Sosrokartono, Itu mungkin karena Sosrokartono diminta untuk membantu menjadi juru bahasa dalam negosiasi. Sosrokartono kemudian diminta untuk menjadi pemimpin penerjemah di Liga Bangsa-Bangsa.

Sosrokartono kemudian kembali ke Indonesia dan memimpin Sekolah Tamansiswa di Bandung. Dikenal sebagai penyembuh di dunia non-medis, Sosrokartono akhirnya meninggal di Bandung pada 8 Februari 1952 pada usia 74 tahun.

Cerita tentang mereka dapat dibaca di paviliun Karaton di HISTORY OF JAVA MUSEUM, yang akan dibuka lagi. Selain cerita mereka, ada banyak cerita menarik tentang Jawa di masa lalu. Termasuk artefak atau masyarakatnya sendiri.

Jika Anda ingin mengetahui cerita lainnya, datang saja ke Museum Sejarah Jawa di Jl. Parangtritis km 5,5 Bantul DIY. Tetapi untuk sekarang, Anda harus lebih sabar sekitar 1 bulan sebelum Museum ini resmi dibuka.

Selamat menikmati ceritanya!

Comments